"Blessed (happy, enviably fortunate, and spiritually prosperous--possessing the happiness produced by the experience of God's favor and especially conditioned by the revelation of His grace, regardless of their outward conditions) are the pure in heart, for they shall see God!" (Matthew 5:8, Amplified)
Mereka yang murni hatinya adalah orang-orang yang diberkati. Salah satu pengertian "diberkati" menurut Alkitab versi Amplified adalah "enviable fortunate" atau secara bebas saya terjemahkan: "begitu diberkati dan beruntung sehingga orang lain menginginkannya."
Terus terang saya tidak selalu melihat kekudusan atau kemurnian hati dengan cara pandang seperti itu. Kemurnian secara seksual misalnya. Dunia ini mengagungkan suatu kehidupan yang memiliki akses bebas untuk menikmati seks (dan dosa-dosa lainnya). "Kapan saja, di mana saja, nikmatilah segera," begitulah pesan yang dikumandangkan secara langsung maupun tidak di mana-mana. Seks mendominasi dan memotivasi hampir sebagian besar pikiran masyarakat. Jangan salah mengerti, Tuhanlah yang menciptakan seks dan Ia ingin kita menikmatinya dalam pernikahan yang Ia berkati. Namun sekali lagi, kita hidup di dunia di mana eksploitasi kenikmatan melalui seks bebas adalah suatu hal yang diinginkan dan dianggap "enviably fortunate."
Namun menurut Tuhan Yesus dalam khotbahNya yang terkenal di Matius 5, ternyata kekudusan atau kemurnian hati adalah suatu kebahagiaan dan berkat yang begitu diinginkan. Dengan kata lain, ketika jika Anda kemurnian hati, orang lain yang melihatnya akan merasa iri dan berkata dalam hati mereka, "Aku menginginkan apa yang ia miliki." Mengapa kemurnian hati begitu diinginkan? Alasannya sederhana: mereka yang murni hatinya akan melihat Allah. Meskipun Tuhan ada di mana-mana, ternyata kehadiran dan pekerjaanNya tidak selalu dapat dilihat dan disadari manusia. Ayat ini menyadarkan saya bahwa melihat Dia adalah suatu berkat besar yang begitu berharga.
Seringkali mata kita sudah dibiasakan untuk melihat dosa. “Mata mereka penuh nafsu zinah dan mereka tidak pernah jemu berbuat dosa” (2 Petrus 2:14), adalah gambaran firman Tuhan yang sangat tepat mengenai kehidupan kita di zaman ini. Ketika kita melihat ‘nafsu zinah’, maka kita jadi ingin melihatnya lagi dan lagi, sampai mata kita dipenuhi dengannya. Ketika mata kita sarat dengan nafsu, kita akan selalu melihat apapun dengan nafsu. Bahkan tak peduli apapun dan di manapun kita melihat sesuatu (di rumah, di kantor, di jalan, di gereja), nafsu selalu berada di mata kita.
Namun begitu kita melihat Tuhan, kita akan diubahkan sama sekali. Perspektif kita akan berubah. Kita jadi bisa melihat Dia dalam keluarga kita, pekerjaan kita, pelayanan kita, bahkan di tengah problem yang paling kelam sekalipun. There is nothing more rewarding than this. Ketika kita tidak bisa melihat Tuhan, kita menjadi “buta” secara rohani. Kita hanya bisa melihat kegelapan. Tidak tahu arah ke mana akan pergi. Betapa berbedanya jika kita bisa melihat Tuhan. Inilah harta yang sebenarnya dalam hidup ini. Berbahagialah yang murni hatinya, karena mereka akan melihat Tuhan!
Tuesday, April 29, 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment