Wednesday, April 30, 2008

Belajar Dari Simson

[19]     Sesudah itu dibujuknya Simson tidur di pangkuannya, lalu dipanggilnya seorang dan disuruhnya mencukur ketujuh rambut jalinnya, sehingga mulailah Simson ditundukkan oleh perempuan itu, sebab kekuatannya telah lenyap dari padanya.

[20]     Lalu berserulah perempuan itu: "Orang Filistin menyergap engkau, Simson!" Maka terjagalah ia dari tidurnya serta katanya: "Seperti yang sudah-sudah, aku akan bebas dan akan meronta lepas." Tetapi tidaklah diketahuinya, bahwa TUHAN telah meninggalkan dia.

[21]     Orang Filistin itu menangkap dia, mencungkil kedua matanya dan membawanya ke Gaza. Di situ ia dibelenggu dengan dua rantai tembaga dan pekerjaannya di penjara ialah menggiling.

Hakim-Hakim 16:19-21


 

Simson diurapi Roh Kudus dengan cara yang luar biasa. Dengan kekuatan yang supernatural, ia menjadi alat Tuhan untuk menghancurkan Filistin di berbagai kesempatan. Namun di balik kekuatan fisiknya yang dahsyat, sebenarnya Simson memiliki karakter yang sangat lemah. Begitu matanya tergoda, seakan ia tidak lagi dapat berpikir panjang. Perhatikan bagaimana Simson dengan mudah dan spontan menyerah tanpa perlawanan pada dosa: "pada suatu kali, ketika Simson pergi ke Gaza, dilihatnya di sana seorang perempuan sundal, lalu menghampiri dia" (Hakim-Hakim 16:1).

Bukannya bersikap tegas di tengah godaan, Simson malah bermain-main dan berkompromi dengan dosa, sampai akhirnya ia larut dalam rayuan Delila. Simson bisa terlelap di pangkuan Delilah dengan begitu rileksnya, sehingga ia sama sekali tidak sadar ketika orang Filistin memotong rambutnya dan Tuhan telah meninggalkan dia. Simson kini lemah, tidak berdaya dan menjadi tawanan musuh. Lebih parah lagi, orang-orang Filistin mencungkil kedua matanya. Sungguh menyedihkan: Simson kehilangan urapan dan penglihatannya, karena ia tidak bisa berkata tidak pada godaan kenikmatan dosa.


 

Musuh Ingin Anda Tidak Bisa Melihat Tuhan

Saya melihat skenario yang sama masih dipakai iblis untuk menjatuhkan banyak orang di akhir zaman ini. Ketika Tuhan memanggil dan mengurapi seseorang, Ia memilih mereka apa adanya, dengan segala kelebihan dan kekurangan yang ada. "Ingat saja, saudara-saudara, bagaimana keadaan kamu, ketika kamu dipanggil: menurut ukuran manusia tidak banyak orang yang bijak, tidak banyak orang yang berpengaruh, tidak banyak orang yang terpandang" (1 Korintus 1:26). Seringkali urapan itu begitu kuat, seolah menutupi segala kelemahan dan nafsu daging yang sebenarnya masih harus dimatikan dalam diri. Kenyataannya, di balik hal-hal impresif yang terjadi di luar, sebenarnya ada keterikatan pada dosa yang bagaikan bom waktu dapat meledak kapan saja.

Sama seperti kasus Simson, tidak selamanya kita bisa terus bermain-main dengan dosa. Godaan bisa datang dengan begitu menariknya, dan tanpa kita sadari, kita sudah kehilangan dua hal yang sangat vital dalam hidup kita: kedekatan dengan Tuhan dan 'mata rohani' kita. Musuh kita ingin mengambil mata kita—yaitu kemurnian hati, yang membuat kita bisa melihat Tuhan (Matius 5:8). Tanpa hati yang murni, Anda dan saya menjadi buta secara rohani.

Tidak ada orang yang ingin kehilangan matanya dan menjadi buta. Namun iblis memiliki suatu cara yang begitu efektif: ia memakai godaan dosa untuk membuat kita terlena dan kemudian masuk dalam perangkapnya. Seperti bangsa Filistin yang suka mencungkil mata musuh-musuh mereka, iblis tidak hanya ingin menawan orang-orang yang diurapi Tuhan. Iblis tidak ingin mereka bisa melihat Tuhan lagi dalam hidup mereka. Ketika hati kita tidak murni lagi, dipenuhi dengan hawa nafsu dan pikiran yang sia-sia, maka kita tidak lagi bisa berbuat banyak. Iblis ingin mengambil produktivitas kita.

Ingat ini: Delila hanya ingin mengincar rambut Anda, dan orang Filistin ingin menangkap dan mencungkil kedua mata Anda. Hubungan seks bebas hanya akan membuat Anda jauh dari Tuhan dan kehilangan urapanNya. Lebih jauh lagi, Anda akan kehilangan hati yang murni—sehingga Anda tidak dapat melihat Tuhan. Ya, dosa akan merampas penglihatan rohani Anda. "Mahkota telah jatuh dari kepala kami. Wahai kami, karena kami telah berbuat dosa! Karena inilah hati kami sakit, karena inilah mata kami jadi kabur" (Ratapan 5: 16-17).

Mari belajar dari Simson. Akhirnya ia bertobat dan urapan Roh Kudus kembali lagi dalam hidupnya. Namun hidupnya tetap menjadi sebuah teladan bagi kita: jangan tukarkan hidup Anda dengan kenikmatan dosa. Jangan kehilangan hadirat dan urapanNya dalam hidupmu. Tetaplah memandang Dia—pertahankan hati yang murni. Amin!


 

Ivan F. Clement


 


 

Rahasia Memaksimalkan Hidup Anda

"Supaya orang lain jangan mengenyangkan diri dengan kekayaanmu, dan hasil susah payahmu jangan masuk ke rumah orang yang tidak dikenal." (Amsal 5:10)


 

Peringatan Firman Tuhan ini agak unik. Apakah Anda mau orang lain menikmati hasil jerih lelah Anda, dan mengenyangkan diri dengan uang tabungan Anda? Atau seperti dituliskan di ayat sebelumnya, maukah Anda menyerahkan "keremajaan (atau masa muda) Anda kepada orang lain, dan tahun-tahun umur Anda kepada orang kejam?"

Jika Anda ingin memaksimalkan hidup, menikmati jerih payah dan masa muda Anda, dengarkan baik-baik nasihat ini: jauhilah wanita penggoda (juga termasuk pria penggoda, bagi para wanita). Amsal pasal 5, 6 dan 7 mendeskripsikan ciri-ciri mereka. Sangat disarankan Anda membacanya. Misalnya saja, wanita penggoda memiliki bibir yang manis dan mengundang—baik secara fisik ataupun kata-kata—namun setelah Anda terjerat, bibir itu akan membawa kepahitan dan luka pada hati Anda. Sedangkan langkahnya, pada akhirnya akan menyesatkan dan membawa Anda (dan ia sendiri) pada kematian.

Ciri berikutnya adalah "berpakaian sundal dengan hati licik" dan "kakinya tak dapat tenang di rumah" (7:10-11). Sangat jelas bahwa mereka dikenali dari cara berpakaian yang 'mengundang' dan kebiasaan pergi ke berbagai tempat ramai untuk menghadang mangsanya (ayat 12). Ciri lain yang mengejutkan adalah: ternyata mereka bisa sangat religius! "Aku harus mempersembahkan korban keselamatan, dan pada hari ini telah kubayar nazarku itu" (ayat 14).

Mereka akan membujuk Anda untuk melakukan hubungan seks di luar nikah. Dengar dengan baik: tidak pernah ada seks di luar nikah yang 'aman'. Yang lebih hebat lagi, para wanita penggoda ini bisa membuat Anda berzinah dalam pikiran Anda (Mat.5:27-29), dan akibatnya selalu sama. Anda yang belum ataupun sudah menikah, waspadalah. Mengapa kita harus membiarkan diri kita dihancurkan? Jangan biarkan daya tarik seks menipu Anda. Sebaliknya, Tuhan memberkati hubungan Anda dengan pasangan di dalam pernikahan: "Diberkatilah kiranya sendangmu, bersukacitalah dengan istri masa mudamu; rusa yang manis, kijang yang jelita; biarlah buah dadanya selalu memuaskan engkau, dan engkau senantiasa birahi akan cintanya" (Ams.5:18-19).

Mintalah hikmat Tuhan untuk memilih pasangan Anda, dan minta Tuhan menjagai Anda dalam pernikahan yang kudus—untuk tidak terjerat oleh para wanita (dan pria) penggoda. Yes, Lord!


 

Buat aku mengerti, ya Tuhan, bahwa seks adalah anugerah—yang hanya akan Kau berkati di dalam pernikahan. Ampuni dan pulihkan aku yang terjerat olehnya. Tolong aku untuk dapat peka dan menjauhi para wanita atau pria penggoda dalam hidupku. Jagai aku di dalam kekudusanMu.

Tuesday, April 29, 2008

Berbahagialah yang Murni Hatinya

"Blessed (happy, enviably fortunate, and spiritually prosperous--possessing the happiness produced by the experience of God's favor and especially conditioned by the revelation of His grace, regardless of their outward conditions) are the pure in heart, for they shall see God!" (Matthew 5:8, Amplified)

Mereka yang murni hatinya adalah orang-orang yang diberkati. Salah satu pengertian "diberkati" menurut Alkitab versi Amplified adalah "enviable fortunate" atau secara bebas saya terjemahkan: "begitu diberkati dan beruntung sehingga orang lain menginginkannya."

Terus terang saya tidak selalu melihat kekudusan atau kemurnian hati dengan cara pandang seperti itu. Kemurnian secara seksual misalnya. Dunia ini mengagungkan suatu kehidupan yang memiliki akses bebas untuk menikmati seks (dan dosa-dosa lainnya). "Kapan saja, di mana saja, nikmatilah segera," begitulah pesan yang dikumandangkan secara langsung maupun tidak di mana-mana. Seks mendominasi dan memotivasi hampir sebagian besar pikiran masyarakat. Jangan salah mengerti, Tuhanlah yang menciptakan seks dan Ia ingin kita menikmatinya dalam pernikahan yang Ia berkati. Namun sekali lagi, kita hidup di dunia di mana eksploitasi kenikmatan melalui seks bebas adalah suatu hal yang diinginkan dan dianggap "enviably fortunate."

Namun menurut Tuhan Yesus dalam khotbahNya yang terkenal di Matius 5, ternyata kekudusan atau kemurnian hati adalah suatu kebahagiaan dan berkat yang begitu diinginkan. Dengan kata lain, ketika jika Anda kemurnian hati, orang lain yang melihatnya akan merasa iri dan berkata dalam hati mereka, "Aku menginginkan apa yang ia miliki." Mengapa kemurnian hati begitu diinginkan? Alasannya sederhana: mereka yang murni hatinya akan melihat Allah. Meskipun Tuhan ada di mana-mana, ternyata kehadiran dan pekerjaanNya tidak selalu dapat dilihat dan disadari manusia. Ayat ini menyadarkan saya bahwa melihat Dia adalah suatu berkat besar yang begitu berharga.

Seringkali mata kita sudah dibiasakan untuk melihat dosa. “Mata mereka penuh nafsu zinah dan mereka tidak pernah jemu berbuat dosa” (2 Petrus 2:14), adalah gambaran firman Tuhan yang sangat tepat mengenai kehidupan kita di zaman ini. Ketika kita melihat ‘nafsu zinah’, maka kita jadi ingin melihatnya lagi dan lagi, sampai mata kita dipenuhi dengannya. Ketika mata kita sarat dengan nafsu, kita akan selalu melihat apapun dengan nafsu. Bahkan tak peduli apapun dan di manapun kita melihat sesuatu (di rumah, di kantor, di jalan, di gereja), nafsu selalu berada di mata kita.

Namun begitu kita melihat Tuhan, kita akan diubahkan sama sekali. Perspektif kita akan berubah. Kita jadi bisa melihat Dia dalam keluarga kita, pekerjaan kita, pelayanan kita, bahkan di tengah problem yang paling kelam sekalipun. There is nothing more rewarding than this. Ketika kita tidak bisa melihat Tuhan, kita menjadi “buta” secara rohani. Kita hanya bisa melihat kegelapan. Tidak tahu arah ke mana akan pergi. Betapa berbedanya jika kita bisa melihat Tuhan. Inilah harta yang sebenarnya dalam hidup ini. Berbahagialah yang murni hatinya, karena mereka akan melihat Tuhan!